Hari ini maba ITB 2013
mengikuti acara Seminar OSKM di Sabuga. Pembicara yang mengisi acara seminar
ini adalah Bapak Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan RI), tiga orang narasumber
dari WANADRI, Ibu Tri Mumpuni, serta Kak Saska dari Riset Indie. Berikut rangkuman
singkat dari seminar tersebut.
Paparan dari Bapak Gita
Wirjawan.
Zaman sekarang
kemerdekaan bukan lagi hanya kemerdekaan yang kita rayakan setiap tanggal 17
Agustus. Kemerdekaan zaman sekarang juga meliputi kemerdekaan diri sendiri
untuk membanggakan serta menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung
dalam budaya bangsa Indonesia.
Indonesia butuh pemimpin
yang punya unsur demokrasi, unsur pluralisme, dan menjunjung tinggi kearifan
lokal. Untuk memajukan perekonomian bangsa, Indonesia butuh pemimpin-pemimpin
muda yang aktif berinisiatif serta proaktif. Indonesia merupakan negara dengan
perekonomian terbesar ke-15 di dunia. Untuk dapat keluar dari middle income trap, orang-orang
Indonesia harus mampu melakukan diversifikasi dan bukan hanya berkutat pada
bidang yang telah dikuasainya saja. Selain itu, hilirisasi juga penting untuk
pertumbuhan perekonomian bangsa. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di
Jakarta dan Pulau Jawa.
Betapa mirisnya bahwa
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tidak dapat menikmati multiplikasi
nilai dalam produksi barang karena keterbatasan teknologi. Kita harus peka
budaya dan melek teknologi. Semua kemajuan yang kita usahakan harus berdasarkan
pada semangat persatuan. Konteks persaingan antarsuku di Indonesia harus
dihapuskan dan mulai bersaing dengan negara-negara tetangga. Kita harus mampu
ikut serta menjadi citizen of the world
sebagai bukti relevansi bangsa Indonesia dalam dunia. Semua ini mungkin asal
ada niat untuk maju. “If you want it,
you’ll get it. It depends on how bad you want it.”
Pesan Bapak Gita untuk
maba ITB 2013: “Jadilah garuda-garuda yang kreatif, terampil,
berteknologi, dan punya semangat
kebangsaan. Jadilah seorang pemimpin yang bangga berbangsa, yang menjunjung
tinggi nilai kearifan lokal di dalam dan di luar kampus.”
Paparan dari WANARDI
(Indra Hidayat) yang bertemakan CINTA TANAH AIR memaparkan tentang fakta-fakta
alam Indonesia dan keunikan-keunikannya. Awalnya dikatakan bahwa jumlah pulau
di Indonesia adalah sekitar 13.000 pulau. Namun, ternyata jumlah pulau di
Indonesia adalah sebanyak lebih dari 17.500 pulau. Ini dapat membuktikan betapa
luas dan kayanya Indonesia. Sebagai generasi muda kita harus menghargai dan
mencintai setiap jengkal dari alam Indonesia tersebut. WANARDI sebagai
organisasi yang bergerak di bidang kegiatan alam bebas menjelaskan pada kami
tentang penjelajahan-penjelajahan mereka. Salah satu yang paling menarik untuk
saya adalah penjelajahan garis depan Indonesia. Dalam penjelajahan itu WANARDI
pergi ke pulau-pulau terluar Indonesia dan menancapkan patung Soekarno-Hatta
sebagai bukti bahwa pulau-pulau tersebut adalah milik Indonesia.
Paparan dari Ibu Tri
Mumpuni bertemakan Integritas dan Kompetensi Pemuda (Alumni ITB) untuk
Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa. Sebagai manusia kita diciptakan dengan
pengetahuan (logika) untuk berpikir serta perasaan (empati) untuk merasakan.
Apabila keduanya digabung akan menjadi akal sehat. Sebagai mahasiswa ITB akal
sehat itu haruslah kita pakai sebagai senjata untuk membantu anak-anak di
daerah terpencil untuk memperjuangkan haknya untuk bermimpi, mendapatkan
pendidikan, dan menjadi pemimpin yang berintegritas. Masih banyak anak di luar
sana yang tidak mampu mengecap pendidikan. Saat ini definisi dari ekonomi telah
salah kaprah. Sering kali ekonomi dijadikan alat untuk mencapai kepentingan
pemilik modal dan teknologi tanpa peduli aspek kemanusiaan dan keberlanjutan
lingkungan. Kita sebagai mahasiswa ITB yang nantinya akan menjadi alumni diharapkan
dapat membuat perubahan dengan melakukan pelurusan visi pembangunan, perubahan
paradigma investasi, dan pembatasan pertumbuhan usaha.
Paparan dari Kak Saska
(Riset Indie).Kak Saska menjelaskan bahwa Riset Indie adalah wadah bagi dia dan
koleganya untuk menyalurkan energi berlebih mereka. Riset Indie melakukan riset
dalam berbagai bidang. Entah itu teknologi atau pun sosial. Beberapa project Riset Indie adalah Project
Alinea yaitu project animatronik
pertama di Indonesia. Selain itu ada juga Angkot Day yaitu satu hari dimana
Riset Indie akan men-charter satu
trayek angkot Kalapa Dago yang akan dibuat nyaman, aman, dan gratis. Angkot Day
digunakan Riset Indie untuk mencari tahu bahwa kemacetan lalu lintas dapat
diatasi apabila masyarakat mau menggunakan transportasi umum. Angkot Day ini
nantinya akan menunjukkan apakah masyarakat akan berminat untuk memakai angkot
setiap hari apabila angkot bersih, nyaman, dan aman. Kak Saska berpesan bahwa
sebagai manusia kita harus mulai berpikir jauh ke depan. Kita harus tahu jalan
yang akan kita tuju dan menjalankannya dengan sepenuh hati.
No comments:
Post a Comment