Pembicara 1 : Gita
Wirjawan
Semangat mahasiswa identik dengan
kearifan lokal. Kearifan lokal ini terkait dengan kepemimpinan. Perekonomian indonesia
kini membutuhkan sosok pemimpin yang mengerti akan kepentingan rakyat dan
geopolitik, meskipun saat ini perekonomian indonesia ada di urutan 15 besar
dunia.
Sekarang, di abad 21 ini, di era
pemerintahan dan perekonomian yang kontra-korupsi ini , indonesia tidak akan
bisa menjadi relevan di bidang apapun tanpa adanya moral, dan pluralisme.
Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin dengan kearifan lokal, yang tidak
menghilangkan identitas indonesia, aktif, berinisiatif, proaktif, dan dapat
mengarudakan diri bangsa Indonesia. Untuk menggarudakan bangsa Indonesia maka
dibutuhkan kemahiran teknologi, kesinambungan demokrasi, kekayaan budaya, dan
kemajuan ekonomi.
Jika pertumbuhan ekonomi di indonesia
mencapai 6 persen pertahun, maka Indonesia dapat menjadi negara maju. Hal ini
terhambat oleh perilaku masyarakat indonesia yang konsumtif oleh produk luar
negeri, baik produk industri maupun eksportasi budaya.
Tantangan menuju 2030 adalah perlu
meningkatkan 60 persen manufaktur tenaga kerja. Saat ini, indonesia terjebak
dalam middle income trap. Salah satu
jalan untuk terlepas dari jebakan tersebut adalah dengan meningkatkan sifat
berbudaya, berusaha, dan berpluralisme.
Terdapat
mitos bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia 20 persennya terletak di jakarta,
namun pada kenyataannya pertumbuhan ekonomi di luar pulau jawa sudah meningkat
sampai dengan 46 persen dalam 4 tahun terakhir, yang menjadi masalah adalah
sisi kesenjangan ekonomi indonesia yang makin tinggi dari tahun ke tahun. Hal
ini dapat diatasi dengan industrialisasi dan hilirisasi di luar pulau jawa,
terutama daerah tertinggal, tentunya dengan menggunakan teknologi. Untuk
menyejahterakan masyarakat tertinggal tersebut, maka indonesia tidak boleh
hanya menjadi sekedar penyetor sumber daya alam saja, namun juga menjadi
pengolah sumber daya alam. Keadaan perekonomian di indonesia pernah dipersulit
oleh sistem pelonggaran liberalisasi pada tahun 2003 yang menyebabkan pedagang
asing semakin mudah berbisnis di Indonesia. Akibatnya, kita harus bisa
membalasnya dengan cara melakukan perkayaan budaya. Senjata bersaing kita
adalah dengan melek teknologi dan peka budaya.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka Indonesia dapat dikatakan
benar-benar membutuhkan pemimpin yang bisa menjawab tantangan zaman, juga
responsif terhadap permintaan rakyat.
Pembicara 2:
Wanadri
Wanadri adalah suatu organisasi
yang bergerak di bidang pendidikan, penjelajahan, dan ilmu pengetahuan, bakti
masyarakat, dan perlindungan alam. Wanadri telah berhasil mendaki 7 puncak di
beberapa benua.
Setelah deklarasi juanda,
indonesia memiliki wilayah maritim yang lebih luas dibandingkan masa setelah
proklamasi. Luas wilayah maritim di Indonesia bahkan mencapai 70 persen dari
total luas wilayah negara Indonesia.
Indonesia
merupakan negara yang kaya akan keberagaman hayati, memliki garis pantai kedua
terbesar di dunia setelah kanada, memiliki lebih dari 17 ribu pulau, sungai
dengan beraneka ragam kontur, kawasan karst, dataran salju di daerah
khatulistiwa, gunung vulkanik, juga suku bangsa yang beragam yang disebabkan
oleh invasi dan akulturasi.
Wanadri mengajarkan kita untuk
sadar diri, sadar lingkungan, dan sadar akan tujuan
Pembicara 3: Tri Mumpuni
Integritas
dan Kompetensi membutuhkan pengetahuan dan perasaan untuk membaca Indonesia.
Jika hanya pengetahuan, maka para intelektual bangsa akan menjadi manusia tanpa
empati yang menyebabkan pertumbuhan eksploitasi menjadi tidak terbatas, padahal
pertumbuhan itu harus terbatas pada nilai optimal, untuk kepentingan masyarakat
lokal, dan daya dukung lingkungan setempat
Teori socio entrepreneur yang
sebenarnya mengatakan bahwa setiap manusia adalah unik, maka ekonomi adalah
kegiatan manusia yang mereka sukai dan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Yang
dibutuhkan oleh setiap socio-entrepreneur pada keadaan realita adalah pelurusan
visi pembangunan, perubahan paradigma investasi berdasarkan pasal 33 UUD 1945,
dan pembatasan eksploitasi
Pembicara 4: Saska
(Riset Indie)
Riset Indie adalah proyek
penelitian yang dilakukan secara independen. Penelitian yang telah dan akan
riset indie lakukan adalah
-
Project polaroid, mengembalikan
eksistensi kamer dengan sistem analog instan, namun proyek ini gagal setelah 2,5
tahun dikarenakan biaya yang mahal dan produk yang mudah rusak
-
Project alinea, proyek ini adalah
proyek animatronik yang menghubungkan kemampuan robotika dengan seni rupa.
Salah satu animatronik yang telah berhasil diciptakan adalah alinea, sang alien
wanita. Alinea telah mendapatkan tanggapan positif dari mancanegara setelah
kemunculannya di sebuah konser.
-
Angkot day, proyek ini adalah
proyek terbaru dari riset indie dan akan dilaksanakan pada tanggal 20 September
2013. Angkot day ini bertujuan untuk menciptakan suasana angkot yang nyaman,
aman, tenang, dan tanpa ngetem.
No comments:
Post a Comment