Friday, August 23, 2013

Muhammad Ahsanuddin A (167133565): Review Seminar

Assalamualaikum wr. wb.

Pada kesempatan yang sempit ini, kenapa dibilang sempit? Karena tugas ini deadline nya sekitar 40 menitan lagi, saya akan mengutarakan apa yang saya dapat dari seminar OSKM yang dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 2013. Nah, sebelum kita bahas materi seminarnya satu-persatu, kita harus tau dulu dong siapa aja sih orang orang penting yang terlibat?

Nah narasumber kita ada empat nih kawan-kawan sekalian, yaitu Bapak Menteri Perdagangan, Ibu Tri Mumpuni, Sekertaris Umum Wanadri, dan Kakak dari RisetIndie.

Oke, tanpa cingcong, langsung aja ke materi yang pertama, yaitu materi dari Bapak Menteri Perdagangan.

Beliau membicarakan tentang kearifan lokal yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Kata beliau,”Semangat kemanusiaan sangat berhubungan dengan kearifan lokal. Pemimpin indonesia butuh kearifan lokal, bukan mereka yang mengenyampingkan nilai-nilai kebudayaan.”

Beliau juga memaparkan bahwa kita harus ‘menggarudakan Indonesia’, apa maksudnya? Maksudnya, seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia tuh lebih didominasi oleh kebudayaan asing, dimana-mana produk jepang, korea, eropa, dan amerika. Bukan hanya produk manufaktur atau alat elektronik, melainkan juga kebudayaan mereka sudah mewabah di Indonesia layaknya virus HIV menyebar di dunia. Kata beliau,”Kita harus bisa mengonsumsi produk merah putih. Budayakan bangga berbangsa.” Tapi, beliau juga bilang bahwa tanpa eksportasi budaya, kita bakalan sulit bangga berbangsa. Maka dari itu, kita juga harus bisa memasarkan budaya budaya kita ke dunia internasional. Siapa tau nanti di korea terjadi I-pop, siapa tau kan..

Beliau juga menyebutkan bahwa salah satu permasalahan ekonomi di Indonesia adalah Middle Income Trap atau tidak bisa menghasilkan produk yang bernilai tambah karena keterbatasan berbagai faktor pendukungnya, tapi jangan khawatir, karena beliau juga memberikan solusinya, yaitu :
1.      Kita harus berteknologi, berbudaya, dan berperi kerakyatan yang dapat mendukung dan dapat menambah nilai nilai budaya.
2.      Menurunkan suku bunga pinjaman
3.      Dan apapun yang kita lakukan harus memiliki landasan semangat persatuan, sehingga tidak ada perselisihan internal, dan Indonesia dapat berkembang menjadi negara maju seperti motto ITB, In Harmonia Progressio.

Inti yang ingin disampaikan oleh beliau yaitu Indonesia butuh pemimpin yang bisa menjawab tantangan pada jamannya dan peduli terhadap permintaan rakyatnya.

Berikut beberapa quote penutup dari beliau :
“We have to be Nationalistic, and sometime Internationalist.”
“Jadilah garuda yang kreatif, berteknologi, dan punya semangat bangga berbangsa dan mempunyai kearifan lokal.”

Lanjut! Kita ke materi yang kedua, dan sekarang deadline tinggal 20 menitan..aw man!

Yaitu materi dari sekertaris WANADRI. Beliau adalah mahasiswa FTMD ITB yang ternyata juga masih satu lab sama presiden KM ITB, Nyoman Anjani. Oke, ini dia paparannya.

Oiya lupa, judulnya “Cinta Tanah Air”

Beliau menjelaskan bahwa Indonesia itu sangat sangat istimewa. Mengapa demikian? Diantara dari biang keladi mengapa Indonesia istimewa adalah :
1.      Indonesia memiliki sekitar 17.000 lebih pulai besar dan kecil.
2.      Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Canada.
3.      Gunung Es di wilayah garis katulistiwa hanya ada dua, dan salah satunya di Indonesia
4.      Dan kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam.

Wow, hebat kan? Nah, tapi menurut beliau juga ada kendala-kendala yang dimiliki oleh bangsa ini tentunya, diantaranya :
1.      Bencana Alam
2.      Negara tetangga yang berjumlah sepuluh negara yang gemar mencuri kekayaan kita baik kekayaan laut, darat, maupun budaya.
3.      Orientasi rakyat indonesia hanya pada wilayah darat, laut cenderung tidak terjamah.

Melihat kendala-kendala diatas, beliau memberikan satu solusi yaitu kita harus sadar diri, sadar lingkungan, dan sadar tujuan. Mau dibawa kemana bangsa ini nanti, jika kita tidak cinta tanah air kita..

Lanjut kita ke materi selanjutnya. Ada Ibu Tri Mumpuni dengan judul “Integritas dan Kompetensi Alumni ITB untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Bangsa.”

Beliau menyampaikan bahwa ada dua hal penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya calon pemimpin bangsa, yaitu kita harus punya kemampuan logika dan kemampuan empati secara bersamaan agar kita bisa memimpin anak bangsa menggapai mimpi mereka dan menjadi pemimpin bangsa yang amanah, tidak egois mementingkan kepentingan pribadi, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan atau sebagian masyarakat saja, tetapi harus mementingkan kepentingan seluruh masyarakat di Indonesia, terutama masyarakat yang tinggal di daerah terpencil yang tidak terjamah teknologi dan infrastruktur.

Beliau bilang bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangatlah buruk, sistem ekonomi di Indonesia saat ini cenderung tidak rata dan tidak manusiawi. Banyak sekali pejabat tinggi negara yang mementingkan kalangan mereka saja tanpa memikirkan rakyat kecil. Coba bayangkan, Indonesia memiliki suku bungan pinjaman yang sangat tinggi kepada peminjam modal, yaitu sekita 15%, hal ini yang membuat pengusaha kecil pribumi sulit maju dan bahkan cenderung bangkrut. Kondisi ini berbeda jauh dengan pesaing kita, Malaysia, yang suku bunga pinjamannya hanya 2%.

Solusi yang ditawarkan oleh Bu Tri antara lain :
1.      Pelurusan visi pembangunan
2.      Perubahan paradigma investasi, dan
3.      Pembatasan pertumbuhan pengusaha luar


Hal-hal diatas diharapkan dapat meningkatkan tingkat perekonomian Indonesia, dan menciptakan pemuda-pemuda yang mampu menguasai sektor ekonomi di Indonesia melebihi pengusaha asing, sehingga dapat memajukan bangsa Indonesia.

Pembicara terakhir, yaitu salah satu CEO RisetIndie, yang juga merupakan alumni ITB angkatan 2003 atau 2000 ya lupa saya. Beliau menyampaikan materi tentang bagaimana kita bisa berbuat untuk Indonesia ini. Sebenernya beliau banyak bercerita tentang dia dan teman-temannya dengan segudang aktivitas yang berguna untuk bangsa.

Beliau mengatakan bahwa salah satu kelemahan mahasiswa, khususnya mahasiswa ITB dibanding mahasiswa barat dan luar negeri adalah keacuhan mahasiswa ITB yang tidak mau membangun kerja sama dengan mahasiswa dengan bidang studi selain bidangnya, karena merasa merekalah yang paling pintar, paradigma inilah yang menurut beliau harus dihapuskan dari Indonesia, khususnya ITB.

Dari keempat materi diatas, saya dapat pembelajaran, bahwa setelah kita terjun ke dunia yang sebenarnya nanti, kita harus mementingkan kepentingan bangsa ini ketimbang keegoisan pribadi kita yang gila harta dan tahta. Masih banyak orang yang perlu pertolongan kita, masih banyak orang yang perlu pemimpin yang berkualitas dan insyaAllah itu adalah kita...


Sekian dari saya, mohon maaf bila banyak kesalahan dalam penyampaiannya. Wassalamualaikum wr.wb.

No comments:

Post a Comment