Diary OSKM 2013 tanggal 17 Agustus 2013
Pagi ini rasanya hari yang berbeda bagiku. Hari ini dimulainya rangkaian OSKM ITB 2013 juga
bertepatan dengan hari ulang tahun Indonesia yang ke 68. Hari ini kami semua seluruh calon
mahasiswa baru ITB dikumpulkan di perpustakaan pusat untuk dimobilisasi ke Sabuga. Semua calon
mahasiswa baru berkumpul jam 5.50. Lalu kami semua bergegas mobilisasi ke Sabuga. Hal yang
sangat mengejutkan saat kami semua harus berjalan cepat dikala kami tak terbiasa untuk berjalan
cepat. Rasanya lelah sekali saat pertama kali berjalan cepat. Kami berjalan melewati tunnel lalu
dikumpulkan disamping gedung Sabuga. Lalu disana sudah dibagi per fakultas dan ada kaka-kaka
pembawa acara yang semangat penuh senyum menyambut kami semua. Kami diminta bodywave
dan menyuarakan jargon OSKM juga jargon 2013 yang mereka buat untuk kita. Lalu ada orasi dari
Tirta Kirana yang sangat mengguncang hati dan menyadarkan kami bahwa kami bukanlah putih abuabu lagi. Kami juga turut menyemarakkan Salam Ganesha. “Bakti kami untukmu Tuhan, bangsa,
dan almamater. Merdeka!” lalu tak lama kami bersiap dimobilisasi ke lapang Saraga. Tubuh saya
rasanya mulai terasa sulit bernafas karena asma yg saya miliki. Lalu kami berjalan cepat kembali ke
lapang Saraga untuk mengikuti upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yg ke-
68. Disana lapangan cukup berdebu sehingga semakin menyulitkan saya untuk bernafas terlebih lagi
tak ada satupun dari kami yang membawa masker. Upacara dimulai seiring berjalannya matahari
yang semakin meninggi. Semua anak mengeluh kepanasan. Ada yang nyaris pingsan. Ada yang
pucat sekali sampai saya sendiri takut melihat dia. Ditambah lagi penyerahan penghargaan yang
sangat lama membuat kita semakin lelah berdiri disana. Kekhidmatan upacara pun berkurang. Seusai
upacara kami kembali berjalan cepat menuju Sabuga untuk gladi resik upacara sidang penerimaan
mahasiswa baru. Sesampainya di auditorium saya kebagian duduk di tangga. Pantat saya pegal sekali
karena terlalu lama duduk disana. Setelah itu solat dzuhur bersama menggunakan ponco. Rasanya
aneh sekali mengetahui kami solat berjamaah dikomandoi oleh orang yang tidak solat. Seusai solat
kami berpindah untuk dibubarkan di kampus. Kami berjalan cepat lagi. Oke singkat kata, saya sudah
menempuh cukup jauh dipimpin taplok saya namun saya gak tau seberapa jauh lagi. Semakin lama
nafas saya semakin sulit dan jarak saya semakin melebar. Kaka-kaka berbaju hitam, yang saat itu
saya belum tahu kalau mereka disebut Arga Pancaka, terus-terusan meminta saya berjalan makin
cepat dikala saya ga mampu. Akhirnya saya keluar barisan ditolong oleh Kak Ine dari tim medik.
Saya berkumpul dengan teman2 yang sakit lainnya di suatu tempat yg saya ga tau namanya. Setelah
semua membaik, kami berjalan bersama menuju lapangan seni rupa lalu diantarkan sesuai tujuan
masing-masing oleh kaka-kaka medik. Saya menuju pintu depan ditemani Kak Ine karena orang tua
saya menunggu disana. Lalu saya pulang dan segera rebahan karena asma yang saya derita semakin
parah sedangkan besoknya ada psikotest. Sesegera mungkin saya mandi lalu tidur. Meskipun saya
lapar malam itu tapi rasanya tidur lebih menenangkan otak.
Penulis,
Nadya Puteri Puspaseruni (16013116)
No comments:
Post a Comment